Pidato Prabowo di WEF 2026, Tegaskan Indonesia Siap Menjadi Arsitektur Ekonomi Global Baru

Wong
26 Jan 2026 16:27
POLITIK 0 17
3 menit membaca

Jakarta l Arintanews – Ketua Lembaga Pemikiran Strategik Prabowonomic, Tommy Nicson, menyatakan pidato Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam The World Economic Forum (WEF) 2026 digelar di Davos, Swiss, 19-23 Januari 2026, menunjukan bahwa masuk era baru dan siap menjadi kepemimpinan global.

Tommy Nicson menjelaskan,, Prabowo tidak sekadar berpidato, tetapi mengartikulasikan sebuah visi jangka panjang tentang transformasi ekonomi yang mengakar pada realitas, berpijak pada etika, dan menjangkau masa depan.

“Apa yang kita saksikan di Davos, lebih dari diplomasi forum. Ini adalah manifestasi dari Prabowonomics dalam tataran global. Presiden Prabowo menunjukkan, bahwa Indonesia bukan hanya mampu menavigasi krisis global, tetapi hadir sebagai penggagas arah baru pembangunan ekonomi dunia yang lebih berkeadilan, berkelanjutan, dan manusiawi,” ujar Tommy Nicson, Senin, (26/1/2026), Jakarta.

Menurut Tommy Nicson, pidato Prabowo membangun narasi alternatif terhadap model ekonomi global yang selama ini didominasi oleh liberalisme pasar tanpa kendali. Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian—mulai dari perang geopolitik, fragmentasi rantai pasok, hingga krisis kepercayaan antar negara—Prabowo menghadirkan suara moral bahwa perdamaian dan stabilitas adalah syarat mutlak untuk pertumbuhan dan kemakmuran.

“Presiden menegaskan, tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian. Ini bukan sekadar kutipan retoris, tetapi fondasi utama dari visi pembangunan Indonesia ke depan. Stabilitas bukanlah produk sampingan, tetapi produk kebijakan yang terukur dan penuh keberanian,” tambah Tommy Nicson.

MBG Intervensi Struktural Masa Depan Bangsa

Dalam pidatonya, Prabowo memaparkan dua program monumental, yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Dana Kekayaan Negara Danantara. Keduanya dianggap Tommy sebagai manifestasi konkret dari Prabowonomics.

Program MBG, telah mencapai 59,8 juta makanan per-hari dalam waktu kurang dari satu tahun. Menurut Tommy Nicson, ini merupakan kebijakan sosial berskala revolusioner. Prabowo secara lugas membandingkannya dengan McDonald’s yang membutuhkan 55 dekade untuk mencapai produksi 68 juta makanan per hari, sementara Indonesia menargetkan 82,9 juta porsi harian pada akhir 2026.

“Ini bukan hanya soal angka. Ini adalah soal politik anggaran yang berpihak pada rakyat. Saat negara-negara maju mendebat tentang universal basic income. Kita justru mempraktikkan bentuk paling nyata dari jaring pengaman sosial, makanan bergizi harian untuk seluruh anak bangsa,” jelas Tommy Nicson.

Danantara: Instrumen Kedaulatan Ekonomi Abad 21

Tommy juga menekankan pentingnya Dana Kekayaan Negara Danantara yang kini mengelola lebih dari 1.044 BUMN dengan aset senilai USD 1 triliun. Ia menyebut, Danantara sebagai “mesin strategis untuk industrialisasi nasional” yang akan mengurangi ketergantungan pada sumber daya primer dan mendorong investasi pada sektor-sektor masa depan seperti teknologi, energi terbarukan, dan manufaktur strategis.

“Dengan Danantara, Indonesia tidak lagi menjadi pasar, tapi pemain utama. Kita tidak hanya menarik investasi, tetapi mulai berinvestasi ke dunia—dengan syarat, prinsip, dan tata kelola yang kita tentukan sendiri,” ujarnya.

Danantara disebut Tommy sebagai mekanisme reformasi BUMN paling radikal dalam sejarah Indonesia, dengan target efisiensi menjadi 300 perusahaan strategis dan pembukaan peluang bagi ekspatriat untuk mengelola perusahaan-perusahaan negara di bawah prinsip meritokrasi dan kinerja. (AF-1)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x