Wayang Golek Karya seni pahatan Bisma Rahman (68) menjadi karya seni bernilai tinggi Bogor, Arintanews.com, – Dari sebuah Desa Sirnagalih, di Kampung Kabandungan 2, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Bisma Rahman (68) masih setia menghidupkan sepotong kayu menjadi karya seni bernilai tinggi menjadi wayang golek.
Pria kelahiran 1956 ini telah menggeluti kerajinan wayang golek selama lebih dari dua dekade. Namun, bakatnya sudah terasah sejak usia 13 tahun. Meski sempat meninggalkan dunia kerajinan karena tekanan ekonomi, Bisma akhirnya kembali menekuni keahliannya yang sempat terlupakan.
“Sempat saya tinggalkan karena kesulitan ekonomi, sampai saya lupa punya keahlian membuat wayang golek,” ujar Bisma
Dalam dunia pewayangan, Bisma menjelaskan bahwa istilah yang digunakan adalah purwa, bukan purna. Baik wayang kulit maupun wayang golek, semuanya merujuk pada pakem purwa yang sarat makna dan filosofi.
Ia pun menyebut berbagai tokoh yang kerap dibuatnya, seperti Arjuna, Semar, Cepot, Dawala, Gatotkaca, hingga kisah-kisah dari Ramayana. Setiap karakter memiliki ciri khas tersendiri yang harus dikerjakan dengan ketelitian tinggi.
Dalam proses pembuatannya, Bisma masih menggunakan alat-alat sederhana seperti golok, gergaji, kampak besar dan kecil, serta pisau ukir. Sementara bahan baku utama berasal dari kayu lame dan jingjing. Namun kini, bahan tersebut semakin sulit didapat di sekitar Bogor, sehingga ia harus mencarinya hingga ke wilayah Malingping, Banten.
Tak hanya dikenal di dalam negeri, karya wayang golek Bisma pernah menembus pasar internasional. Negara-negara seperti Belanda, Prancis, hingga Jerman menjadi tujuan pengiriman, dengan Belanda sebagai pasar terbesar.
“Dulu sebelum pandemi, bisa kirim sampai 60 pcs ke Belanda. Harga satu wayang sekitar Rp 400 ribu,” tuturnya.
Namun, pandemi COVID-19 menjadi titik balik yang cukup berat. Permintaan dari luar negeri menurun drastis, sehingga kini Bisma lebih banyak mengandalkan pasar lokal melalui jaringan komunitas seni di Bogor.
Meski demikian, ia tetap memegang teguh prinsip dalam berkarya. Baginya, membuat wayang tidak bisa sembarangan dan harus mengikuti pakem atau aturan dasar pewayangan.
“Kebanyakan pengrajin sekarang keluar dari pakem. Yang penting jadi, padahal pakem itu penting,” tegasnya.
Di usianya yang tak lagi muda, Bisma berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, khususnya dalam hal permodalan dan pemasaran, agar para pengrajin wayang golek tetap bisa bertahan dan melestarikan warisan budaya bangsa.
Wayang golek bukan sekadar kerajinan, melainkan identitas budaya yang hidup dari tangan-tangan setia seperti Bisma Rahman yang terus mengukir, menjaga, dan merawat tradisi di tengah perubahan zaman.


Tidak ada komentar